Minggu, 07 Juli 2013


Relativisme Budaya di Indonesia
By : Arif purnomo
     
Relativisme berasal dari kata Latin yaitu relatives yang berarti nisbi atau relative. Sesuai dengan arti dari kata tersebut, secara umum relativisme berpendapat bahwa perbedaan pada manusia, budaya, etika, dan moral,  maupun agama bukanlah perbedaan dalam hakikat melainkan perbedaan karena faktor-faktor yang ada di luarnya. Sebagai paham dan pandangan yang etis, relativisme berpendapat bahwa hal yang baik dan yang buruk, hal yang benar dan yang salah tergantung pada masing-masing orang (individu) dan budaya pada masyarakatnya dalam memberikan penilaian atau putusan moral. Maka dari itu emosi dan perasaan individu  berperan penting dalam pengambilan keputusan moral, terhadap hal tersebut tidak ada kriteria-kriteria absolute yang menjadi penentu dalam pemberian keputusan moral.  Adaupun ajaran seperti ini dianut oleh Protagras, Pyrrho, dan pengikut-pengikutnya, maupun oleh kaum Skeptik.
Sedangkan kebudayaan itu sendiri merupakan hasil, cipta karya dan rasa dari hasil pemikiran manusia yang digunakan oleh manusia itu sendiri dalam berkehidupan. Dari pengertian kedua kata tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya “Relativisme kebudayaan” itu sendiri merupakan penilaian atau  keputusan moral dari masing-masing orang (individu) mengenai baik buruknya atau salah benarnya kebudayaan(hasil pemikiran individu lainya) yang ada.

 Karena hal tersebut tidak memiliki standar keabsolutan dalam pemberian keputusan moral maka relativisme ini tidak bersifat tetap.    Contohnya saja pada gambar diatas, “disana terdapat gambar seorang wanita dari suku dayak dengan telinga panjang kebanggaannya. Bagi mereka memilki telingan yang panjang merupakan kebanggaan tersendiri terutama dalam hal mencari pasangan (jodoh). Semakin panjang telinga wanita dayak maka akan semakin banyak orang yang kagum dengan mereka dan bagi wanita dayak yang ingin mencari jodoh, telingan panjang sangat membantu mereka karena semakin panjang telinga mereka maka  semakin banyak lelaki yang akan memilih mereka, tetapi hal tersebut hanya berlaku diaerah Kalimantan khususnya bagi masyarakat suku dayak, karena di tempat yang berbeda akan terdapat penilaian berbeda pula mengenai kebiasaan telinga panjang tersebut. Mungkin di tempat yang berbeda orang akan menilai bahwasanya hal tersebut bukanlah hal yang baik seperti penilaian orang dayak itu sendiri.”  Perbedaan penilaian atau pemberian keputusan  moral tersebutlah yang kita kenal dengan sebutan relativisme kebudayaan.
            Indonesia yang merupakan negara kepulauan, memiliki lima pulau besar dan ratusan pulau kecil lainya dengan beragam suku bangsa tentu membuat masyarakatnya berbeda. Masyarakat yang berbeda tentu berbeda pula kebudayaannya dan berbeda pula cara berpikirnya. Perbedaan tersebut menjadi dasar mengapa relativisme kebudayaan di Indonesia sangat kental. Menaggapi hal tersebut, untuk mengantisipasi dampak negativenya, kita sebagai bangsa yang majemuk sangat perlu namanya sikap toeransi dan saling menghormati antar budaya agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan, terhina, dikucilkan maupun tersinggung oleh adanya relativisme kebudayaan itu sendiri. Sehingga negara kita yang kaya akan perbedaan  dapat menjadikan perbedaan itu sendiri sebagai kekuatan untuk membangun rasa persatuaan yang khas dan mungkin tidak dimiliki bangsa lain didunia.



Facebook comment

My Great Web page